Logo

Our Partner

IPAC SELENGGARAKAN WORKSHOP “PATPAR”
IPI-PACTA ACEH PROGRAM (IPAC) SELENGGARAKAN WORKSHOP
PROGRAM ASISTENSI TOKOH PEREMPUAN AKAR RUMPUT (PATPAR)
Bireun, Sabtu 10 Juli 2010
foto1

Merujuk pada legitimasi sejarah bahwa perempuan Aceh pada masa lalu memiliki peran yang sangat signifikan di ruang publik, dan pada masa konflik perempuan akar rumput mempunyai berbagai peran baik di ruang publik maupun domestik, penting sekali bagi semua pihak untuk memperkuat kembali peran-peran tersebut dalam rangka meninimalkan konflik-konflik di masyarakat dan mewujudkan perdamaian yang abadi.

Dalam perspektif perspektif Institut Perdamaian Indonesia (IPI), beberapa peran yang perlu diperkuat untuk tokoh-tokoh perempuan di akar rumput adalah bagaimana peran-peran publik mereka sebagai fasilitator, mediator dan negosiator perdamaian ketika konflik-konflik terjadi di tingkat masyarakatnya. Pada Program sebelumnya, yakni bulan Oktober-November 2008, IPI telah melaksanakan 16 buah training untuk perempuan di akar rumput di 16 kabupaten/kota. Dari training tersebut setidaknya ada 330 tokoh-tokoh perempuan yang dilatih untuk teman manajemen dan transformasi konflik. Kegiatan dilanjutkan dengan memberikan training of trainer (ToT) kepada 76 orang perempuan yang sudah ditraining tersebut pada bulan Juni 2009. ToT tersebut menjadi bekal mereka dengan pengetahuan praktis yang lebih dalam, sehingga mereka bisa berperan dalam managemen dan resolusi konflik dalam komunitasnya.

Sebagai upaya untuk memperkuat pengakuan masyarakat dan pemangku kebijakan terhadap keberadaan tokoh-tokoh perempuan akar rumput, IPI-PACTA Aceh Program (IPAC) kembali melaksanakan Program Asistensi Tokoh Perempuan Akar Rumput (PATPAR). Program ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan dasar dan ToT managemen dan transformasi konflik sebelumnya yang melibatkan tokoh perempuan akar rumput dari kabupaten-kabupaten tempat IPAC bekerja. Agar PATPAR IPAC dapat berjalan sesuai rencana, maka penting dilakukannya workshop PATPAR.
 

Penjelasan Kegiatan
Kegiatan ini bernama “Workshop Program Asistenti Tokoh Perempuan Akar Rumput (PATPAR) IPAC”, diselenggarakan di Aula Opr. Bupati Bireun pada Hari Sabtu, 10 Juli 2010. Workshop ini diikut oleh 59 orang, yaitu: Gender & Information Coordinator (GIC), Regional Coordinator (RC), Senior Facilitatore (SF), Fasilitator BIMA, 9 orang FF IPAC, 40 orang peserta dan 7 orang wakil dari lembaga mitra.
Pembagian peran dalam pelaksanaan Workshop PATPAR :

Tim Facilitator


Co-facilitator

Evaluator

FF IPAC

Program Owner

: Ahmady Meuraxa
  Moulinda

: Riswati

: Regional Coordinator (RC)

: All FF IPAC

: Gender & Information Coordinator (GIC)

foto2afoto2b

Tujuan Kegiatan

  1. Membangun komunikasi dan hubungan antar IPAC, tokoh perempuan akar rumput dan     lembaga mitra yang akan terlibat dalam pelaksanaan PATPAR.
  2. Merefresh dan penguatan pemahaman materi & skill tentang managemen & trasformasi konflik peserta yang telah didapat pada training dasar managemen dan transformasi konflik IIAP pada tahun 2008 dan ToT managemen dan transformasi konflik pada Tahun 2009.
  3. Merumuskan strategi-aksi pelaksananaan PATPAR per-Agustus-Desember 2010.

Pelaksana Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan oleh IPAC, dan dukung oleh 7 lembaga mitra yaitu: Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RpuK), Solidaritas Perempuan (SP) Aceh, Ekonomi Masyarakat Sipil (EMAS), Perkumpulan BIMA, Lembaga Pendidikan dan Pembangunan Desa (LP2D), Jaringan Perempuan untuk Keadilan (JARI) dan Lembaga Kajian Perlindungan Perempuan dan Anak untuk Aceh (LKPPA). Lembaga-lembaga mitra tersebut merupakan lembaga lokal di Aceh yang bekerja untuk isu-isu pemberdayaan perempuan dalam komunitas dan memenuhi beberapa kriteria utama yang ditentukan oleh IPAC.

foto3bfoto3a
Peserta Kegiatan
Peserta adalah 40 orang tokoh perempuan akar rumput dari 10 Kabupaten/kota dimana IPAC bekerja, yaitu; Aceh Besar, Pidie, Bireun, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Utara/Lhokseumawe, Nagan Raya dan Aceh Barat. Mereka sudah pernah mengikuti training dasar managemen dan transformasi konflik yang telah IPI lakukan pada tahun 2008.

Proses Kegiatan
Workshop dimulai pada pukul 09.00 WIB dan berakhir pada Pk. 17.40 WIB dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:

Pembukaan Workshop
Sessi pembukaan acara difasilitasi oleh Field Facilitator IPAC wilayah Bireun/Pidie, Mukhlis Rama, sekaligus memperkenalan staf IPAC kepada peserta workshop.

Selanjutnya penyampaian kata sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Regional Coordinator, Saifuddin Haitamy mewakili IPAC. Sambutan berisi penjelasan tentang IPI, PACTA dan peran IPAC dalam penguatan perdamaian Aceh. Kemudian penjelasan seputar PATPAR oleh Gender & Information Coordinator, Riswati.
Kegiatan selanjutnya dipandu oleh Tim fasilitatsor; Ahmady Meuraxa dan Moulina

Sessi I: Refresh pemahaman materi dan skill managemen dan transformasi konflik
Oleh Senior Facilitator, Ahmady Meuraxa

Sessi ini diawali dengan perkenalan, selanjutnya refresh pemahaman peserta terkait materi-materi yang meliputi; 1)Teori prasangka. 2)Memahami konflik. 3)Pemetaan konflik. 4)Analisa konflik. 5)Teori negosiasi dan mediasi. 6)Fasilitator sebagai agen perdamaian.

Kegiatan refresh materi dilakukan dengan metode ceramah, studi kasus, diskusi kelompok dan diskusi.

Sessi II: Tehnik dan skill sebagai fasilitator, mediator dan negosiator
Oleh Moulinda (aktivis perempuan dan fasilitator)
Materi yang disampaikan pada sessi ini adalah tehnik dan skill sebagai fasilitator, mediator dan negosiator di komunitas. Metode yang digunakan roleplay/bermain peran, diskusi dan ceramah.

Sessi II: Recana Aksi
Oleh Gender & Information Coordinator, Riswati

Pada sessi ini, GIC menjelaskan peran IPAC dalam upaya menguatkan partisipasi perempuan dalam proses perdamaian Aceh melalui program perempuan yang dimilikinya, salah satunya PATPAR. Selanjutnya menjelaskan secara rinci tentang PATPAR; tujuan, kelompok yang akan terlibat, target kegiatan, dampak, model kegiatan, dan waktu.
Selanjutnya menginventarisir harapan dan kekhawatiran peserta, serta rencana aksi yang akan dilakukan oleh peserta PATPAR di komunitasnya setelah kegiatan ini selesai.

Evaluasi Kegiatan oleh Peserta
Kegiatan evaluasi dilakukan oleh peserta dengan menjawab form evaluasi kegiatan yang diberikan oleh IPAC.

 foto4afoto4b

Dinamika Forum

  1. Peserta sangat antusias dan interaktif ketika mengikuti kegiatan, forum yang dibangun juga tidak terlalu kaku (banyak humor dan menggunakan bahasa yang sangat komunikatif). Pemahaman fasilitator tentang konteks sosial budaya Aceh sangat membantu proses kedekatan secara psikologis dengan para peserta.
  2. Fasilitator dapat menguasai forum dan meminimalisir potensi beberapa peserta yang akan mendominasi forum. Peran serta para FF IPAC dan wakil dari lembaga mitra juga sangat membantu menstimulus keikutsertaan para peserta dalam dikusi-diskusi yang ada.
  3. Proses transformasi pengetahuan dalam pelatihan lebih efektif karena dilakukan dengan suasana riang (fasilitator humoris) dan tidak kaku. Hal ini didukung dengan kemampuan tim fasilitator membangun suasana forum yg kondusif & kekeluargaan.

foto5a foto5b

Hasil Kegiatan

  1. Terbangunnya komunikasi dan hubungan antar IPAC, tokoh perempuan akar rumput dan lembaga mitra yang akan terlibat dalam pelaksanaan PATPAR.
  2. Menguatnya pemahaman materi & skill tentang managemen & trasformasi konflik peserta yang telah didapat pada training dasar managemen dan transformasi konflik IIAP pada tahun 2008 dan ToT managemen dan transformasi konflik pada Tahun 2009.
  3. Ter-inventarisir-nya kekhawatiran, harapan dan rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh peserta workshop PATPAR di komunitasnya.

Rencana Tindak Lanjut

  1. IPAC-Lembaga mitra menyepakati dan menandatangani pembagain peran dan hal lainnya yang tertuang dalam draft kontrak kerja sama PATPAR IPAC
  2. Merumuskan rencana aksi peserta PATPAR (IPAC & lembaga mitra)
  3. Merumuskan model pendampingan sesuai dengan kebutuhan peserta (IPAC & lembaga mitra)
  4. Melakukan persiapan pelaksanaan PATPAR (IPAC, lembaga mitra, dan peserta)
  5. Pelaksanaan PATPAR di 10 kabupaten/kota. Kegiatan akan dimulai pada Agustus Desember 2010. Model kegiatan diskusi reguler atau aktivitas lainnya berdasarkan kesepakatan peserta.
  6. Rapat evaluasi kegiatan; setiap akhir bulan dan pada minggu III Desember 2010.

***

 

Kabar Terbaru

Kalla Tak Mau Ada MoU Helsinki Berikutnya
Eks Wakil Presiden Jusuf Kalla  mengutarakan keinginannya terkait dengan peringatan 5 tahun perjanjian...
Selengkapnya...
Refleksi 5 Tahun MoU Helsinki
BANDA ACEH - Perdamaian Aceh yang kemarin genap berumur lima tahun, dianggap masih belum matang serta penuh...
Selengkapnya...